(+62-21) 750 2976 [email protected]
Sebuah laporan dari Federal Trade Commission (FTC) menunjukkan bahwa kalangan millenial merupakan korban penipuan online terbesar. Mereka lebih cenderung kehilangan uang karena penipuan dari aktivitas online. Ini merupakan sebuah fakta yang harus diketahui oleh para profesional keamanan cyber.

Laporan tersebut mengungkapkan bahwa kalangan millenial merupakan kelompok korban penipuan online yang bahkan jumlahnya lebih banyak dari korban kelompok manula. Temuan ini memang cukup mengejutkan pada awalnya, namun kita harus pahami juga apa sebabnya.

Kenapa Kalangan Millenial Sering Menjadi Korban Penipuan Online?

Milenium adalah bagian dari generasi unik yang memiliki dua era yang berbeda dalam hal akses terhadap teknologi. Ketika mereka lahir, internet mungkin pada tahap yang baru lahir, hanya dapat diakses oleh beberapa orang. Pada saat mereka mencapai usia dewasa, atau mungkin berusia pertengahan 30an, akses ke internet dianggap sebagai kebutuhan.

Saat baru menggunakan internet, itu adalah pengalaman unik, tak ada bandingannya dan menyenangkan. Namun mereka relatif tidak mengetahui apa saja kejahatan online yang mengintai mereka dan teknik keamanannya. Dan ini berlanjut seiring dengan perkembangan teknologi informasi, yang sekarang ini telah menjadi teknologi digital.

Transaksi online dan e-commerce menjadi cara hidup yang hampir universal. Pengalaman browsing internet meningkat. Kalangan millenial mengalami perubahan dramatis yang dapat membuat mereka lengah. Yang banyak mereka lihat hanyalah hal-hal yang baik, bukan bahaya potensial yang mengintai di balik situs dan transaksi tanpa jaminan. Hal ini menjadikan mereka  mangsa yang mudah bagi para pelaku kejahatan siber.

Beberapa Kejahatan Online yang Mengintai Kalangan Millenial 

Temuan tersebut – bahwa kalangan millenial rentan terhadap serangan cyber – dapat membawa kekhawtiran bagi kelangsungan operasional bisnis perusahaan. Korban penipuan online selain dirinya sendiri yang terkena, juga dapat menular ke karyawan lainnya di perusahaan anda.
Sebagaimana yang telah kita ketahui, masalah login dan penggunaan kartu pembayaran merupakan target serangan cyber terbesar. Hal ini terus berkembang dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berkurang. Kalangan millenial juga di identifikasi sebagai pemegang kartu kredit terbesar jumlahnya. Mereka sering belanja online baik membeli barang atau mendapatkan tiket untuk pergi liburan. Kalangan millenial jarang memperhatikan keamanan transaksi keuangan di website tempat mereka bertransaksi. Akhirnya, mereka menjadi korban pencurian identitas dan informasi sensitif kartu kredit.
Jika dulu para scammer mencari mangsa melalui e-mail, saat ini para scammer beralih via sosial media. Terutama di Indonesia, dengan eskalasi situasi politik saat ini, banyak yang terlibat dalam percakapan politik. Para scammer mengintai, mereka melakukan rekayasa sosial dengan cara menjadi satu kubu dengan para kalangan millenial. Setelah itu, mereka akan berpura-pura sedang memiliki kebutuhan mendadak dan meminta transfer sejumlah uang.
Penggunaan ponsel pintar mendorong orang untuk mendapatkan informasi tagihan dan pemberitahuan lainnya melalui e-mail. Terkadang, sebuah e-mail palsu dapat tampak seperti sungguhan. Ketika mereka mengunjungi link yang diberikan di e-mail, mereka memasukan informasi yang memberikan data sensitif kepada para pelaku cyber crime.
Malware ditujukan tidak hanya untuk individu sekarang ini, akan tetapi lebih pada untuk meminta uang tebusan pada perusahaan. Era “Bring Your Own Device” atau disingkat “BYOD” memberikan kekhawatiran tersendiri. Sebuah malware dapat di kirim melalui sisipan file pada e-mail yang diterima. Begitu file tersebut dibuka, selain ponsel dan komputer pengguna, malware juga menyebar pada jaringan yang digunakan.

Pentingnya Edukasi Keamanan Online Untuk Generasi Muda

Ketika seorang profesional muda menganggap mereka terlalu pintar untuk jatuh dalam penipuan online, itu membuat mereka semakin rentan. Hal ini telah menjadi alasan kenapa para pimpinan TI perlu memastikan pengguna dari kalangan millenial untuk dilatih dengan benar mengenai kebijakan keamanan dunia maya.

Kita tidak dapat berasumsi bahwa seseorang yang memahami komputer dan dunia maya memiliki kebiasaan penjelajahan yang aman, kebersihan kata sandi yang baik, menangani dengan benar keamanan perangkat seluler mereka, atau tidak berpotensi membahayakan protokol keamanan cybersecurity perusahaan.

Beberapa jenis kejahatan cyber seperti social engineering dan scam, mungkin hanya membahayakan seorang individu. Akan tetapi lain ceritanya jika karyawan terkena phishing dan malware, ini dapat berdampak pada aset kritis perusahaan.

Peralatan keamanan tidak akan pernah bisa 100% menangkal serangan cyber. Para penyerang cyber selalu berusaha menemui celah. Ini merupakan perlombaan yang sepertinya tidak akan pernah selesai.

Edukasi mengenai keamanan cyber bagi karyawan dan generasi muda dapat lebih efektif dalam mencegah serangan cyber. Seperti untuk mengenali link dan file jahat, hal ini akan sangat berarti dalam pencegahan serangan cyber. Anda dapat memanggil konsultan managed service untuk memberikan edukasi secara berkala untuk karyawan anda.

Solusi Elitery Untuk Anda

Backup sangat penting untuk dimiliki oleh tiap individu di perusahaan, akan tetapi pencadangan sistem untuk misi kritis akan lebih penting lagi. Sistem DRaaS Elitery dapat mencegah serangan cyber merusak bisnis anda. 

Elitery memilki data center TIER III yang selalu dapat bisnis anda andalkan setiap saat. Begitu terjadi gangguan pada insrastruktur TI anda, anda dapat langsung mengalihkan operasional TI anda sementara ke sistem DRaaS Elitery. Sehingga, bisnis anda dapat tetap berjalan, dan masalah yang terjadi tidak dirasakan oleh konsumen dan karyawan anda. Dengan cara ini, anda dapat cegah rusaknya reputasi bisnis akibat dari sekali serangan cyber.

Dapatkan Solusi Lengkap

Untuk Mitigasi Serangan Cyber di Perusahaan Anda.

Terutama untuk bisnis digital seperti Fintech, Elitery telah dipercaya oleh puluhan institusi keuangan di Indonesia dan perusahaan Fintech di Indonesia. Data center Elitery telah di sertifikasi oleh PCI DSS beberapa waktu yang lalu, selain dari Uptime Institute dan ISO 27001 untuk standar keamanan.

Share This